Opini  

Ketika Imigran Muslim Menjadi Pahlawan Nomor Satu di Australia

Oleh : Haidir Fitra Siagian

Pada tahun 2019, dalam sebuah percakapan santai dengan seorang warga negara Australia yang datang memperbaiki peralatan rumah tangga di asrama kami di Wollongong, New South Wales, saya mengajukan pertanyaan sederhana namun agak sensitif: “Apa pendapat Anda tentang Muslim?” Jawaban yang tidak saya duga sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa Muslim itu identik dengan kemiskinan, kebodohan, dan terorisme. Meski terasa cukup menyakitkan, jawaban itu tidak sepenuhnya mengejutkan. Ini hanya mengulang gambaran yang selama ini dia konsumsi dari televisi dan media massa lainnya.

Media Barat kerap kali menampilkan Islam dalam bingkai konflik, kekerasan, dan ekstremisme. Dalam perspektif komunikasi politik, cara media menonjolkan aspek tertentu dari realitas ini kita kenal sebagai framing. Framing membentuk cara publik memahami dunia meski tidak ada pengalaman langsung. Akibatnya, oleh sebagian orang, umat Islam selalunya dipersepsikan sebagai kelompok yang kasar dan berbahaya.

Salah satu contoh nyata hadir pada Desember 2025 ini, ketika Bondi Beach, kawasan pantai terkenal di Australia, diguncang oleh insiden penembakan yang mengancam keselamatan warga sipil. Bersama keluarga, penulis pernah datang untuk rekeasi ke pantai ini pada tahun 2022. Memang sangat indah dan ramai. Beberapa lokasi yang diperlihatkan dalam video penembakan di media sosial terasa sangat familiar bagi saya.

Seorang pelaku bersenjata menembaki orang-orang yang sedang menikmati sore di pantai. Dalam kekacauan itu, seorang imigran Muslim asal Suriah, Ahmed Al Ahmed, bertindak dengan keberanian luar biasa. Ia berlari seorang diri melawan pelaku, berkelahi dan merampas senjatanya. Memberi kesempatan bagi warga di sekitarnya untuk melarikan diri, meskipun risiko kehilangan nyawa sangat tinggi bahkan tertembah hingga lima peluru menembus badannya. Insiden ini berlangsung cepat, tetapi dampaknya jauh melampaui skala fisik kejadian.

Dalam artikel “Australian prime minister praises Bondi hero Ahmed al-Ahmed as ‘best of our country’” yang diterbitkan The Guardian pada 16 Desember 2025, tindakan Ahmed mendapat perhatian publik luas. Media lokal dan nasional menyoroti heroismenya. Jika narasi yang sebelumnya menekankan Muslim sebagai ancaman kini telah bergeser. Muslim menjadi penyelamat, simbol keberanian, dan integrasi sosial yang positif.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, secara resmi memberikan apreasiasi kepada Ahmed sebagai “pahlawan dan contoh terbaik dari negara kami”. Ia juga mengunjungi rumah sakit tempat Ahmed dirawat. Pernyataan ini sangat penting karena menegaskan legitimasi elite politik dan memperkuat persepsi baru tentang Islam yang lebih menekankan nilai kemanusiaan. Solidaritas lintas agama juga muncul. Dewan Patriarkat dan Kepala Gereja di Yerusalem mengecam serangan teroris di Bondi sekaligus memuji keberanian Ahmed.

Mereka menegaskan bahwa tindakan Ahmed adalah simbol solidaritas dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan universal. Juga menunjukkan bahwa keberanian dan pengorbanan tidak mengenal batas agama. Dari perspektif Islam, tindakan Ahmed selaras dengan prinsip moral dan etika inti agama. Al-Qur’an menegaskan bahwa menyelamatkan satu nyawa sama nilainya dengan menyelamatkan seluruh umat manusia.

Pemikiran ulama kontemporer, seperti Yusuf Qardawi, memperkuat prinsip ini. Dalam Al-Halal wal Haram fil Islam, Qardawi menekankan moderasi, menolak sikap berlebihan, dan mengutamakan kemudahan dalam beragama. Kekerasan, fanatisme, dan ekstremisme adalah amat bertentangan langsung dengan prinsip moral dan teologis Islam. Dengan demikian, tindakan Ahmed mencerminkan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Islam menekankan perdamaian dan perlindungan nyawa manusia. Kekerasan hanya diperbolehkan dalam kondisi sangat terbatas, misalnya untuk pembelaan diri atau menegakkan keadilan, dengan aturan ketat dan sebagai jalan terakhir. Islam juga menolak ekstremisme dan terorisme dalam bentuk apa pun. Tindakan berani Ahmed menunjukkan bahwa identitas agama tidak bisa dinilai dari prasangka, tetapi dari tindakan nyata.

Dalam komunikasi politik, peristiwa ini menunjukkan kekuatan framing. Satu tindakan heroik dapat meruntuhkan stereotip lama dan membentuk narasi baru di ruang publik. Sebelumnya, media menekankan kekerasan dan ancaman. Kini, frame baru menyoroti keberanian, kemanusiaan, dan kontribusi sosial. Media dan elite politik berperan penting dalam membentuk persepsi publik baru.

Teori komunikasi seperti Agenda Setting dan Soft Power menjelaskan bahwa pemberitaan media dan legitimasi politis dapat membentuk opini publik dan citra kelompok minoritas. Insiden Bondi dan respons yang muncul menunjukkan bahwa Islam moderat bisa tampil sebagai kekuatan moral universal. Ahmed menjadi simbol keberanian, empati, dan pengorbanan yang melampaui batas agama atau kebangsaan.

Perisriwa penting ini menyampaikan pesan penting. Dunia seharusnya menilai Islam dari tindakan nyata para pemeluknya, bukan pemberitaan negatif yang berulang. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana media, elite politik, dan tokoh moral bersama-sama menciptakan narasi baru; kemanusiaan, keberanian, dan integrasi sosial, sekaligus menegaskan bahwa Islam menolak kekerasan dan ekstremisme. Apa yang diperlihatkan Ahmed ini adalah contoh bahwa satu individu dapat menjadi agen perubahan persepsi sekaligus simbol moral bagi masyarakat luas.

Madinah Al Munawwarah, 16 Desember 2025
(Penulis adalah dosen Komunikasi Politik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar / Ketua PRIM NSW 2021/2022).